Internet Rakyat - konektivitas 5G FWA<
Gambar Ilustrasi Internet Rakyat - konektivitas 5G FWA

“Internet Rakyat”: Revolusi Konektivitas atau Sekadar Gimmick Digital?

Pendahuluan

Belakangan ini istilah Internet Rakyat menjadi sorotan publik dan media nasional. Program yang dipromosikan sebagai layanan broadband terjangkau ini menjanjikan koneksi berbasis 5G Fixed Wireless Access (FWA) dengan kecepatan hingga 100 Mbps dan paket unlimited seharga sekitar Rp 100.000 per bulan. Bagi banyak pihak, ini terdengar seperti terobosan yang mampu menjawab persoalan pemerataan akses internet. Namun, di balik janji kecepatan dan keterjangkauan itu muncul pertanyaan krusial: apakah inisiatif ini benar-benar dapat menjembatani kesenjangan digital yang selama ini ada, ataukah sekadar strategi pemasaran yang berisiko menimbulkan ekspektasi tak terpenuhi?

Realitas Teknis & Ekonomi

Teknologi dan Kolaborasi Strategis

Program ini dikembangkan oleh Surge (PT Solusi Sinergi Digital Tbk.) bersama konsorsium OREX SAI (gabungan NTT Docomo dan NEC) dengan memanfaatkan pita frekuensi 1,4 GHz, teknologi 5G FWA, serta arsitektur Open RAN. Dokumentasi teknis Open RAN bertujuan menurunkan biaya integrasi vendor dan membuka pasar bagi lebih banyak penyedia peralatan jaringan. Secara teknis, FWA memungkinkan penyediaan akses broadband tanpa perlu menarik serat optik ke tiap rumah, sehingga pembangunan jaringan bisa lebih cepat dan relatif lebih murah dibandingkan infrastruktur kabel tradisional.

Harga, Paket, dan Model Bisnis

Informasi awal menyebutkan paket flat dengan tarif sekitar Rp 100.000 per 30 hari untuk kecepatan tertentu — hingga 100 Mbps — dan kuota unlimited. Ada pula penawaran promo yang lebih murah pada fase pendaftaran awal. Selain itu, model komersial menyebutkan penyediaan Customer Premises Equipment (CPE) atau modem dengan sewa gratis serta pemasangan awal tanpa biaya. Secara ekonomi, model berbiaya rendah ini menimbulkan dua catatan: pertama, margin penyedia layanan dapat tertekan jika trafik pengguna tinggi; kedua, model harus didukung oleh proyeksi investasi dan subsidi yang realistis agar kualitas layanan tidak menurun setelah fase promosi berakhir.

Catatan teknis: Kecepatan teoretis 100 Mbps di FWA tidak serta-merta berarti setiap pengguna mendapatkan 100 Mbps secara terus-menerus — kapasitas base station dibagi di antara pengguna aktif dalam cakupan.

Cakupan Wilayah & Target Implementasi

Pada tahap awal, pra-registrasi layanan dibuka di wilayah Jawa, Maluku, dan Papua, dengan target pembangunan ribuan base station (dilaporkan sekitar 4.800 BTS pada kuartal tertentu). Penentuan wilayah uji coba ini penting untuk mengukur kinerja jaringan FWA di beragam kondisi geografis serta beban trafik yang berbeda.

Aspek Regulasi & Spektrum

Pemilihan pita 1,4 GHz memiliki implikasi regulasi karena spektrum ini sebelumnya dipertimbangkan untuk alokasi layanan broadband tetap oleh otoritas frekuensi. Untuk memastikan model berkelanjutan, perlu ada kepastian regulasi terkait lisensi, kewajiban pembangunan, dan insentif. Semua pihak terkait—pemerintah (Kominfo/Komdigi), operator, dan regulator—harus jelas mengenai skema alokasi spektrum, aturan netralitas jaringan, serta perlindungan konsumen agar tidak terjadi praktik monopoli atau diskriminasi layanan.

Selain itu, penggunaan Open RAN membuka peluang persaingan vendor, tetapi juga menuntut kesiapan operator dalam hal integrasi, keamanan, dan manajemen multi-vendor.

Dampak Sosial & Masa Depan

Potensi Positif

Jika direalisasikan dengan baik, manfaatnya nyata: inklusi digital yang lebih luas, peluang ekonomi digital bagi UMKM di daerah, akses pendidikan daring yang lebih andal, serta kemampuan kerja jarak jauh bagi komunitas yang sebelumnya terbelenggu konektivitas buruk.

Tantangan & Risiko

  • Keberlanjutan Bisnis: Tarif ultra-terjangkau menekan margin; tanpa model bisnis yang sehat penyedia berisiko menurunkan kualitas atau menghentikan layanan.
  • Pemekaran Ketimpangan: Jika cakupan awal terfokus pada lokasi tertentu, daerah lain yang belum terjangkau justru akan tertinggal — memperlebar gap digital.
  • Isu Regulasi: Perlu kebijakan spektrum dan pengawasan agar penyedia tidak memonopoli akses atau mengubah model tarif setelah fase promosi.
  • Kepercayaan Publik: Promosi harga sangat agresif menimbulkan skeptisisme; transparansi roadmap dan komunikasi yang jujur menjadi kunci membangun kepercayaan.

Opini: Harapan yang Harus Diiringi Kewaspadaan

Saya memandang inisiatif Internet Rakyat sebagai langkah progresif yang selaras dengan semangat pemerataan digital. Membawa broadband cepat ke lapisan masyarakat berpenghasilan rendah adalah tujuan yang penting dan layak diapresiasi.

Namun, niat baik harus disertai mekanisme kuat agar manfaat dapat bertahan lama. Beberapa rekomendasi untuk menjemput hasil nyata:

1. Transparansi Operasional

Surge dan mitra perlu membuka roadmap pembangunan jaringan, target pelanggan per wilayah, metrik kapasitas BTS, dan proyeksi finansial. Data ini bukan hanya untuk pengontrolan publik, tetapi juga bahan kajian bagi akademisi dan lembaga pengawas untuk menilai kelayakan jangka panjang.

2. Regulasi yang Adil dan Berkelanjutan

Pemerintah (Komdigi/Kominfo) harus memastikan skema alokasi spektrum dan insentif tidak menciptakan ketergantungan pada subsidi semata. Regulasi perlu menyeimbangkan akses murah bagi masyarakat dan insentif investasi bagi operator agar kualitas layanan tetap terjaga.

3. Pelibatan Komunitas Lokal

Pelibatan koperasi, kelompok masyarakat adat, dan pemerintah daerah dalam pra-registrasi, pemasangan, dan pemeliharaan dapat meningkatkan representativitas jangkauan dan menumbuhkan kemandirian operasional di tingkat lokal.

4. Literasi Digital

Koneksi berguna jika masyarakat tahu cara memanfaatkannya. Program literasi digital yang mendampingi peluncuran layanan (mis. pelatihan UMKM online, keamanan siber dasar, dan pemanfaatan layanan publik digital) harus menjadi paket komplementer.

Ringkasan: Internet Rakyat bisa jadi revolusi konektivitas jika dilaksanakan transparan, berbasis regulasi yang jelas, dan disertai program pemberdayaan masyarakat. Tanpa itu, ada risiko besar bahwa inisiatif ini hanya menjadi kampanye pemasaran yang memicu kekecewaan.

Sumber & Referensi

Berikut sejumlah laporan dan artikel yang mengulas aspek teknis, kebijakan, dan tanggapan publik terhadap inisiatif tersebut. Baca untuk konteks dan verifikasi lebih lanjut:

  1. Detikinet — Liputan teknologi (artikel terkait paket & harga Internet Rakyat).
  2. Teknologi.id — Berita dan analisa teknis (liputan Open RAN & 5G FWA).
  3. Bisnis Tempo / BisnisTeknologi — Analisa model bisnis dan kelayakan.
  4. NTT / NEC — Informasi konsorsium teknologi OREX SAI (referensi vendor).
  5. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo/Komdigi) — Kebijakan spektrum dan regulasi.
  6. Diskusi publik & media sosial — citra publik dan skeptisisme (contoh: tanggapan awal di forum publik).